BANDUNG — Menanggapi status historis dan potensi besar Bandung sebagai “Kota Dirgantara”, Ketua Asosiasi Riung Priangan sekaligus Wakil Ketua Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) Kota Bandung, Arief Bonafianto, angkat bicara.
Menurutnya, identitas dirgantara yang melekat pada Ibu Kota Jawa Barat ini harus dibawa melompat lebih jauh—bukan sekadar pusat manufaktur pesawat, melainkan ekonomi kreatif, pariwisata, dan ruang publik yang inklusif.
Sebagai kota yang melahirkan industri penerbangan tanah air melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung dinilai memiliki modal kuat untuk mengembangkan Wisata Edukasi Dirgantara (Aero-Tourism).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Magnet Pariwisata Baru di Priangan
Arief Bonafianto menekankan bahwa sektor perhotelan dan pariwisata di bawah naungan Riung Priangan melihat peluang besar jika narasi “Kota Dirgantara” ini dikemas menjadi atraksi yang nyata.
”Bandung tidak boleh kehilangan identitas dirgantaranya. Potensi ini bisa diwujudkan dalam bentuk festival kedirgantaraan tahunan, optimalisasi museum terbang, hingga paket wisata edukasi teknologi bagi generasi muda,” ujar Arief.
Menurutnya, integrasi antara sejarah kedirgantaraan dan industri kreatif Bandung akan menciptakan multiplier effect yang tinggi bagi perhotelan, UMKM, dan sektor kuliner di kawasan Priangan.
Di sisi lain, kapasitasnya sebagai Wakil Ketua RBM membuat Arief memberikan catatan penting terkait pembangunan infrastruktur pendukung kota dirgantara. Ia menegaskan bahwa narasi kemajuan teknologi penerbangan harus berjalan selaras dengan pemenuhan hak-hak seluruh warga kota, termasuk penyandang disabilitas dan kelompok rentan.
”Ketika kita bicara Bandung sebagai Kota Dirgantara atau kota masa depan yang maju, esensinya adalah bagaimana teknologi dan ruang-ruang publik yang ada di dalamnya bisa diakses oleh semua orang tanpa terkecuali. Fasilitas edukasi dirgantara harus ramah disabilitas (inklusif),” tambahnya.
Menutup narasinya, Arief mengajak seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di Kota Bandung—mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku industri penerbangan, hingga pelaku wisata—untuk berkolaborasi. Mengingat dinamika transportasi udara regional, Bandung harus jeli menempatkan posisinya agar tetap menjadi magnet utama di Jawa Barat.
Dengan sinergi yang tepat, identitas Bandung sebagai Kota Dirgantara tidak hanya akan menjadi catatan sejarah, tetapi menjadi roda penggerak ekonomi yang menyejahterakan dan memanusiakan warganya.






























