BANDUNG, JABAR – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bandung memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Bandung dalam menyelenggarakan pelatihan standarisasi bagi imam dan khatib. Kegiatan yang telah dilaksanakan untuk kedua kalinya ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan kualitas pelayanan ibadah di ribuan masjid yang tersebar di wilayah Kabupaten Bandung.
Membangun Persepsi yang Sama
Pihak Kemenag menegaskan bahwa standarisasi ini sangat krusial agar tidak terjadi ketimpangan kualitas antar masjid. Terlebih dengan pesatnya pertumbuhan kompleks perumahan baru, kebutuhan akan figur imam dan khatib yang mumpuni menjadi hal yang mendesak.
”Kegiatan ini untuk membangun persepsi yang sama, bagaimana membuat standarisasi imam dan khatib di masjid-masjid se-Kabupaten Bandung. Ini harus berdampak dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar perwakilan Kemenag Kabupaten Bandung dalam wawancara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sinergi Strategis Kemenag, DMI, dan MUI
Pelatihan ini merupakan bentuk akselerasi visi-misi pemerintah daerah dan Kemenag. Dalam pelaksanaannya, DMI bertindak sebagai penyelenggara, sementara materi teknis dan resep standarisasi disusun oleh Kemenag bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Ketua DMI Kabupaten Bandung, Gus Ali, menyebutkan bahwa tantangan di lapangan cukup beragam, mulai dari perbedaan kompetensi personal hingga kultur lingkungan masjid yang berbeda-beda. Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat membangun jejaring komunikasi untuk saling bertukar solusi atas persoalan yang dihadapi di masjid masing-masing.
Target Besar di Masa Depan
Berdasarkan data, terdapat sekitar 5.375 masjid di Kabupaten Bandung yang menyelenggarakan salat Jumat. Jika setiap masjid memiliki rata-rata empat khatib, maka ada lebih dari 20.000 khatib yang perlu mendapatkan pembinaan.
- Jumlah Peserta: Pelatihan kali ini diikuti oleh sekitar 125 hingga 160 peserta termasuk jajaran pengurus PC.
- Harapan: Kemenag berharap para peserta dapat menjadi “virus positif” atau motivator bagi rekan sejawat mereka yang belum berkesempatan mengikuti pelatihan.
Kegiatan ini dipastikan akan terus berlanjut secara berkesinambungan demi memastikan umat mendapatkan bimbingan ibadah yang berkualitas dan menyejukkan.































