BANDUNG – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, Kepala Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, KH. Nonof Hanafi, menyampaikan pesan mendalam bagi seluruh umat Islam.
Beliau mengajak masyarakat untuk menyambut bulan penuh berkah ini dengan rasa bahagia, seraya menjadikan Ramadan sebagai titik balik perbaikan diri dan bangsa.
Dalam pesan yang disampaikan pada Selasa (17/02/2026),
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
KH. Nonof Hanafi menggarisbawahi lima poin esensial dalam memaknai ibadah Ramadan di tengah dinamika kondisi sosial dan geopolitik saat ini.
1. Ramadan sebagai ‘Spasi’ Kehidupan
KH. Nonof mengibaratkan kehidupan seperti sebuah tulisan yang hanya bisa dimaknai jika memiliki jeda atau spasi. Ramadan harus menjadi waktu kontemplasi untuk mengevaluasi perjalanan hidup, baik secara individu maupun sebagai bangsa yang telah mencapai usia 78 tahun. Beliau menekankan pentingnya muhasabah atas segala permasalahan bangsa, mulai dari korupsi hingga potensi disintegrasi.
2. Menumbuhkan Empati Sosial
Esensi lapar dan dahaga dalam puasa adalah untuk menyatukan rasa antara orang kaya, pejabat, hingga rakyat jelata. KH. Nonof menyerukan agar rasa lapar tersebut bertransformasi menjadi empati dan simpati nyata terhadap masyarakat kecil yang kesulitan pangan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang cenderung menurun saat ini.
3. Alarm Pertobatan Nasional
Melihat rentetan bencana alam serta kasus hukum yang mencederai keadilan—seperti keterlibatan oknum aparat dalam peredaran narkoba—KH. Nonof menyebut Ramadan sebagai momentum pertobatan nasional.
“Allah menurunkan bencana karena banyaknya kezaliman. Ini harus menjadi refleksi bagi pribadi maupun lembaga negara untuk kembali kepada aturan-Nya,” tegas beliau.
4. Masjid sebagai Markas Persatuan
Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan ancaman konflik dunia, umat Islam diajak untuk kembali meramaikan masjid. Beliau berharap masjid menjadi pusat untuk memperkuat persatuan, meminimalkan perbedaan, dan mencari titik temu agar Indonesia bisa tampil sebagai penengah konflik di level dunia.
5. Kembali kepada Al-Qur’an sebagai Solusi
Menyoroti hukum yang sering dianggap “tumpul ke atas, tajam ke bawah”, KH. Nonof menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah solusi atas segala problematika umat.
Beliau mendorong umat untuk tidak sekadar membaca, tetapi juga mengkaji dan menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an agar tercipta kehidupan yang berkah dan adil.
Menutup pesannya, KH. Nonof Hanafi mengutip hadis Rasulullah SAW tentang keutamaan menyambut Ramadan dengan sukacita. “Siapa yang merasa senang dengan datangnya Ramadan, maka Allah haramkan jasadnya dari api neraka. Semoga Ramadan ini membekas dalam kehidupan kita semua,” pungkasnya.





























